Umar bakri, begitulah orang-orang memanggil namanya. Dia adalah seorang yang mengabdikan hidupnya sebagai guru. Empat puluh tahun hidup bapak Umar bakri di habiskan untuk mengajar. Tak kenal pamrih dan tak kenal lelah demi menciptakan orang-orang yang berprestasi.
Di pagi hari yang cerah, bapak Umar Bakri mengayuh sepeda tuanya untuk menyampaikan ilmu kepada murid-murid tercinta. mentari tesenyum melihat kegigihan bapak Umar Bakri dan burung berkicau memberikan semangat. Walaupun panas terik menusuk di setiap sisi-sisi kulitnya dan badai angin menggoyahkan tubuh rentahnya tapi semangat bapak Umar bakri tak pernah padam.
Di pagi hari yang cerah, bapak Umar Bakri mengayuh sepeda tuanya untuk menyampaikan ilmu kepada murid-murid tercinta. mentari tesenyum melihat kegigihan bapak Umar Bakri dan burung berkicau memberikan semangat. Walaupun panas terik menusuk di setiap sisi-sisi kulitnya dan badai angin menggoyahkan tubuh rentahnya tapi semangat bapak Umar bakri tak pernah padam.
Hidup di lingkungan keluarga yang berkecukupan di rumah tua terbuat dari bilik yang rapuh, yang mungkin bisa roboh jika di terpa angin kencang. dengan didampingi seorang istri dan tiga orang anak, satu laki-laki dan dua perempuan, hidup bapak Umar Bakri selalu dimulai dengan senyuman dan kepastian.
Dilain sisi dari seorang guru yang bersahajah, bapak Umar Bakri juga seorang kepala rumah tangga yang bertanggung jawab dan penuh dengan kecintaan. Menghidupi keluarga dari mengajar di sebuah sekolah tua di Jogajakarta.
dengan genangan air mata beliau menghampiri istrinya sambil berkata “kenapa dokter tidak mengurusi anak kita dengan segera”,
“tidak ada biaya untuk mengurusi anak kita pak”. jawab sang istri dengan penuh kepasrahan.
Sebuah balasan tak setimpal yang di alami oleh bapak Umar Bakri dibanding pengabdian beliau yang di jalani selama empat puluh tahun. Tubuh rentah beliau kini terkulai lemas melihat anaknya terbaring kaku di sebuah kamar mayat dengan penuh darah di tubuhnya. Tenggorakan beliau seperti tersendak batu mutiara sehingga tak sepatah kata terlontar dari mulut keringnya. Air mata perlahan jatuh diiringi kekosongan yang dialami bapak Umar Bakri. Putus asa yang kian lama tak pernah ada dalam dirinya kini tumbuh merambat dalam jiwanya.
Sebagai pendamping beliau, istri bapak Umar Bakri perlahan menghampiri beliau dan berkata “Pak. .kelahiran, jodoh, dan kematiaan telah ditentukan Tuhan dalam takdirnya, janganlah engkau menyesali dan mengingkari takdir Tuhan karena itu akan mengurangi imanmu sebagai hamba-Nya”.
Bapak Umar Bakri menatap istrinya dengan penuh asah kemudian berkata “terima kasih engkau telah mengingatkanku dan berbakti kepadaku dengan setulus jiwamu. Tapi untuk orang yang tua rentah seperti aku ini, bagiku tiada harta yang paling berharga melainkan keluargaku wahai istriku”.
bagaimana pun waktu terus berjalan tanpa peduli apa yang terjadi hari itu. Akhirnya, seiring berjalannya waktu, beliau bisa merelakan kepergian anaknya dan semangat jiwa mengajar bapak Umar Bakri perlahan tumbuh kembali.
Dua tahun kemudian, bapak Umar Bakri menghembuskan nafas terakhirny dan mengakhiri pengabdiannya kepada putra bangsa sebagai guru tanpa tanda jasa. Kepergian beliau telah menciptakan banyak professor dan Doktor termasuk pada kedua anaknya.
Bapak guru Umar Bakri, jasamu akan selalu kami kenang dan ilmu yang engkau berikan akan mengalir dalam jiwaku dan tak akan lekang oleh waktu. Terima kasih atas jasa-jasamu. Salam murid-muridmu tercinta.


0 komentar:
Posting Komentar