Like Me on Facebook
Follow Me on Twitter
Recommend Me on Google Plus
Subscribe me on RSS

Selasa, 28 Mei 2013

Review Film 'MIKA'

Leave a Comment


Foto diambil dari Google
Mika, film yang diadaptasi dari sebuah novel dengan predikat "Best Seller", Waktu Aku Sama Mika,  menceritakan tentang pemuda yang hidupnya diselimuti dengan penyakit mematikan. Human Immunodeficiency Virus infection / Acquired Immunodeficiency Syndrome (HIV/AIDS). 

Mika, yang diperankan oleh Vino G. Bastian, adalah seorang pemuda yang terjangkit virus HIV/AIDS. Dalam film tersebut, diceritakan Mika mengidap penyakitnya karena, dulunya, Mika sempat menjadi sahabat bubuk putih yang mampu memanipulasi akal pikiran. Narkoba. Setelah resmi menyandang predikat ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS), akhirnya Mika memutuskan untuk tidak lagi mengenal narkoba. Insyaf. Meskipun dia mengidap penyakit yang hanya bisa diobati dengan kematian, Mika tetap optimis dalam menjalani hidup kesehariannya. Hidup Mika semakin cerah setelah bertemu seorang gadis remaja sebagai teman dalam hidupnya yang singkat. Indi.

Indi, yang diperankan oleh Velove Vexia, adalah seorang gadis yang periang, cantik. Namun, dia bernasib sedikit sama dengan Mika. Indi didiagnosa mengidap penyakit Scoliosis. Kelainan yang menyebabkan lekukan abnormal pada tulang belakang. Penderita Scoliosis memiliki tulang punggung berbentuk "S" atau "C". Oleh sebab itu, Indi selalu ditemani "Brace" yang menempel lekat pada bagian tubuhnya untuk menopang agar tetap tegak. Sangat tidak nyaman. Itulah yang dirasakan Indi karena terbatasi oleh gerak. 

 ________________________________________________________________________________________________________________________
 "Siapa bilang kamu cacat. Kamu tuh gak cacat. Kamu beda. Kamu spesial". 
- Mika -
________________________________________________________________________________________________________________________
Mika selalu tersenyum, optimis, bahkan dia mencoba untuk terus menghidupkan hidupnya dan hidup orang yang ada disekitarnya. Terutama Indi. Mencoba  tetap membangkitkan semangat Indi. 
Dia berusaha mewarnai hidupnya meskipun dia merasa terasingkan. Bahkan dia memakai sepatu dan sandal dengan warna yang berbeda. Hijau dan Orange.

Captured from video

Secara psikologis warna hijau menyeimbangkan emosi orang, menciptakan rasa tenang. Hijau dikaitkan dengan alam, kesehatan dan penyembuhan, dan lingkungan, menciptakan rasa kasih sayang dan pengasuhan bagi semua. Sedangkan warna orange mengisyaratkan kehangatan, membangkitkan semangat, melambangkan sosialisasi, ceria, penuh harapan dan percaya diri, 

Dalam cerita film ini, di beberapa adegan, juga menggambarkan bahwa penderita HIV/AIDS itu najis, mengerikan, dan menjijikkan sehingga mereka harus dihindari. Bahkan sebagian menganggap itu adalah kutukan Tuhan. Dalam adegan yang terdapat di film tersebut, saat Mika periksa ke dokter karena giginya yang berdarah, sang dokter, yang diperankan oleh Joko Anwar, langsung menolak ketika Mika mengaku bahwa dirinya adalah ODHA. Padahal, dalam istilah kedokteran terdapat yang namanya Kewaspadaan Universal (Universal Precaution). Yaitu panduan mengenai pengendalian infeksi yang dikembangkan untuk melindungi para pekerja di bidang kesehatan dan para pasiennya sehingga dapat terhindar dari berbagai penyakit yang disebarkan melalui darah dan cairan tubuh tertentu. Selain Mika, Indi juga mengalami hal yang sama, dia dijauhi teman-teman sekolahnya karena dia berpacaran dengan Mika.


 ________________________________________________________________________________________________________________________
 "Hei cewek, yang mau sama Mika tuh cuma perek". 
- Clifton -
________________________________________________________________________________________________________________________
Kutipan kata diatas mengisyaratkan kalo orang dengan penyakit HIV/AIDS tidak pantas untuk mencintai dan dicintai. Film ini memberikan gambaran atau nilai sosial dalam dua sisi. Pertama, secara tidak langsung, menyampaikan bahwa narkoba adalah benda yang mengandung efek berbahaya sekaligus mematikan. Salah satunya adalah HIV/AIDS. Kedua, Film ini berusaha untuk menggambarkan fenomena sosial yang terjadi saat ini bahwa tidak sedikit orang-orang yang mengucilkan, bahkan mengasingkan mereka yang terjangkit dengan penyakit tersebut. 


"ODHA sama sekali bukan orang-orang yang untuk dijauhi & diasingkan. Mereka hanya sekumpulan manusia dengan keadaan berbeda..MANUSIA".- Me -










NB: Poster is taken from Google 

0 komentar: