Like Me on Facebook
Follow Me on Twitter
Recommend Me on Google Plus
Subscribe me on RSS

Minggu, 21 Juli 2013

Mencoba Memahami

Leave a Comment

Tekadku untuk terjun bebas ke dalam dunia fotografi sangat besar. Selain itu pula aku tidak ingin terperangkap dengan kejenuhan-kejenuhan yang aku temukan di ruang lingkup perkuliahanku. Aku percaya bahwa hanya diri sendirilah yang bisa menciptakan kesenangan, bukan waktu atau pun menunggu keadaan. Kesenangan itu dicari dan diciptakan. Aku merasa, jika aku hanya menunggu saat-saat seperti itu, kejenuhan akan terlebih dahulu memakanku hidup-hidup sebelum kesenangan itu mendatangiku.

Siang itu sangat terik. Matahari bersinar dengan gagah berani. Cahaya yang dipancarkan seperti hunusan jarum yang menusuk di setiap permukaan kulit. Terasa menyengat. Awan mendung pun tak berani mengganggunya saat itu. Hanya terlihat serat-serat awan putih yang menggumpal seperti kapas menghiasi langit. Aku duduk menunggu teman kosku yang belum juga datang karena dia telah menjajikanku untuk meminjami motor kesayangannya. Aku belum memiliki motor saat itu. Aku tak akan bisa pergi ketempat sahabatku Farlos jika tak ada motor. Untuk itu aku menunggunya pulang.

Satu jam lamanya aku sudah menunggu tapi belum juga datang. Mata ini sudah terasa berat. Rasa kantuk tiba-tiba menyerangku tanpa aba-aba peringatan. Hampir saja aku putus asa menunggu kedatangannya. Aku sudah tidak kuat lagi menunggu dalam keadaan ngantuk. Mata ini rasanya seperti dihipnotis. Tak kuat lagi dipekerjakaan untuk tetap terjaga. Aku beranjak melangkahkan kakiku menuju ke dalam kamar singgasanaku. Namun saat baru setengah kakiku melangkah memasuki pintu depan, aku mendengar suara motor datang. Aku bisa mengenali suara motor itu. Suara khas motor keren. Saking kerennya, aku yakin tak ada yang mau membelinya meskipun dijual dengan harga paling murah sekalipun. Hampir sama seperti rongsokan bekas namun masih berfungsi dan terbalut oleh bodi asli. Mungkin itu yang sedikit membedakan dengan besi-besi rongsokan yang tertumpuk. Sedikit bermoral. Aku membalikkan badanku dan ternyata itu memang temanku yang sedari tadi aku tunggu. Melihat dia datang, rasa kantuk yang sedari tadi menyiksaku tiba-tiba menghilang.

"Sorry bro, ada pelajaran tambahan", Jelasnya.

"Udah gitu si doi pake ngadat minta dibeliin minum", Tambahnya.

"Iya woles aja bro", Jawabku dengan santai.

Jengkel sebenarnya. Tapi aku berpura-pura untuk tetap santai dan tersenyum. Seolah-olah aku seperti kerbau yang tetap kalem saat dicocol hidungnya dengan besi. Tidak, tidak seperti itu. Lebih tepatnya berpura-pura seperti seekor kura-kura yang tetap berjalan dengan santai saat terjadi sunami. Semua itu rela aku lakukan hanya untuk satu hal. Bisa menghampiri sahabatku dengan motor butut miliknya yang selalu dianggap motor paling keren. Motor antik dengan nilai jual yang tinggi. Kenyataannya,  motor miliknya tak lebih kencang daripada laju delman.

Aku buru-buru pergi dari kosku menaiki motor super antik milik temenku karena ini akan menjadi perjalan yang cukup panjang. Bukan karena jaraknya yang terlalu jauh, masalahnya adalah kecepatan si doi yang hanya mampu menyentuh 45km per jam untuk batas maksimum. Sedangkan jarak yang aku tempuh untuk sampai tempat sahabatku kurang lebih 35 kilometer. Aku menyusuri ringroad meter demi meter. Kencanganya tiupan angin semakin memperlambat laju motor yang aku kendarai. Setengah perjalan menuju tempat farlos, tiba-tiba laju motor terpatah-patah dan akhirnya mati. Aku menepi sambil mencari tempat berteduh. Aku mengambil handphoneku untuk mengabari si pemilik karena aku tak tahu masalah motor.

"Sob, motornya ngadat" aku kirim pesan singkat.

"Kenapa emangnya?" tanyanya.

"Gak tau, kan kamu tahu aku gak ngerti soal motor" aku mulai sedikit kesal.

"Oh iya, coba cek bensinya deh" jawabnya.

"Hah? Bensin? Tadi kan dia bilang beliin minum buat doi", aku menggerutu sendiri sambil membuka jok motor. Saat aku melihat ke lubang tangki bensin, aku tak melihat sedikitpun tangki itu digenangi bensin.

"Iya habis, bukannya tadi udah diisi ya?" tanyaku penasaran.

"Aku isi di pom cuma tiga ribu. Dua ribunya buat beli rokok, hehehe.." jawabnya cengengesan.

"Ealah, motor sama pemilik kok sama-sama antik...!!!" lagi-lagi aku menggerutu. Kali ini dengan sedikit rasa kesal dan heran.  Aku sedikit beruntung saat itu aku melihat SPBU yang terletak tak jauh dari tempat dimana aku berteduh. Kira-kira dua kilometer jauhnya. Di bawah sinar terik matahari aku menuntun motor butut itu menuju SPBU. Keringat di dahiku mulai bercucuran. Sesekali aku mengelap keringat yang mengalir dari dahiku dengan tanganku supaya tidak mengenai mata. Selesai aku mengantre untuk mengisi bensin, aku langsung melaju meneruskan perjalananku yang sempat tertunda.  Sesampainya di sana, aku menunggu  Farlos di depan toko buku Social Agency karena aku belum pernah berkunjung ke tempat dia sebelumnya. Dia memberikan aku instruksi supaya menunggunya disana. Tak membutuhkan waktu yang lama dia untuk menghampiriku karena tempatnya tak jauh dari lokasi tersebut.

"Hai sob, gimana kabarnya?"

"Baik-baik sobriiii..."

Kita berjabatan tangan tanpa peluk dan cipika-cipiki karena kita hanya bermesraan saat di dunia maya. Di dunia nyata hidup kita kembali normal seperti biasa.

Sesampainya kamar dia, mataku langsung tertuju pada kamera DSLR 1000D yang teletak diatas meja samping komputer kesayangannya. Kamera yang cocok untuk pemula sepertiku. Newbie.  Kamar Farlos terlihat sangat berantakan. Baju dan kolor berserakan dimana-mana. Mirip tempat pedagang kaki lima yang menjual baju-baju bekas. Bahkan lebih buruk dari itu. Sama seperti kamarku. Kamar seorang jomblo yang tak dapat perhatian. Senasib.

Dia mengajariku semua tentang fotografi yang dia tahu. Tidak ada sedikit pun yang terlewat. Bahkan dia juga mengajariku cara mengolah foto dengan proses editing. Hampir tiap hari aku datang ke tempatnya. Bolak-balik menempuh jarak tigapuluh lima kilometer dengan menggunakan motor yang sama. Motor butut yang sedikit bermoral. Jika hari libur kuliah, aku menginap ditempatnya dan dengan leluasa aku bisa menggunakan kamera yang sedikit jadul itu untuk kepentinganku. Dia memberiku kebebasan untuk menggunakan kamera miliknya hingga aku cukup mengerti kegunaannya. Dia memang sahabat jomblo yang selalu pengertian dengan sesama jomblo.

Suatu saat aku memutuskan untuk singgah selama tiga hari di kamarnya sebelum masuk detik-detik ujian di kampusku. Suatu malam aku sendirian, tak ada banyak hal yang aku bisa kerjakan saat itu. Hanya terbaring di atas kasur ditemani tumpukan-tumpukan baju kotor yang cukup bersahabat. Aku melamun di tengah-tengah malam yang sepi. Hanya suara angin dan jangkrik yang terdengar ditelingaku. Namun tiba-tiba aku tersadar dari lamunanku. Aku teringat apa yang diajarkan Farlos tentang proses editing foto. Segera aku bangkit dari tidurku dan membuang jauh-jauh lamunanku yang sedari tadi tidak memberikan pandangan apa-apa. Aku menyalakan komputer yang ada di depanku. Mencari file-file foto untuk aku jadikan kelinci percobaan pertamaku. Folder demi folder aku telusuri hingga akhirnya aku terdiam melihat isi folder yang bertuliskan "Pencerahan Kalbu" yang sedang aku lihat. Membuatku sedikit takjub dengan mata yang tak berkedip selama beberapa detik. Aku menemukan di dalam folder tersebut seusatu yang mampu memicu adrenalinku ke tingkat waspada dan merubah haluan pikiranku ke tingkat penasaran. File threegipi. File kebanggaan anak muda zaman sekarang, termasuk aku. Tanpa ragu aku membukanya, adegan demi adegan membuatku lupa akan tujuan pertamaku untuk belajar editing. Saat itu, hingga menjelang pagi, pikiranku lebih terfokus dengan pelajaran biologi khas orang jepang yang sedang aku nikmati. Film-film berjenis "kepbo" yang sangat fantastis memanjakan mata. Menakjubkan. Sebuah pencerahan kalbu sebelum menghadapi ujian akhir semester.

Saat musim ujian akhir semester menjelang. Aku mulai jarang mengunjungi sahabatku. Melupakan sejenak apa yang telah menjadi hasrat keinginanku. Selama dua minggu aku menghabiskan waktu disetiap detiknya dengan buku-buku seputar hubungan internasional dan politik untuk mempersiapkan diriku menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang sama sekali tidak memanjakan. 




NB: Picture is taken from Google

0 komentar: