Akhirnya aku bertemu dengannya. Seorang teman dekat yang selama ini aku harapkan. Mungkin lebih tepatnya teman bagian hidupku yang selama ini kosong tak ada yang menempati. Dia sahabat Lia yang mengisi ruang kosong itu. Ruang yang tersembunyi dibalik senyuman-senyuman palsuku. Senyuman yang terlihat sedikit memberikanku kekuatan di luar, namun sesungguhnya hampa di dalam. Terdiam membisu. Aku bertemu dengannya saat acara wisuda Lia. Di tengah keramaian. Aku tertarik saat pertama aku melihatnya. Pandanganku berhenti cukup lama melihat sosok dirinya. Dia seperti pelangi yang memanjakan mata dan seperti air yang memberi kesejukan disaat sinar matahari perlahan membakar permukaan kulitku pada siang itu. Hudiyani, itulah nama pemberian ayahnya.
Dia mahasiswi arsitek. Mahasiswi hebat yang berhasil mengaplikasikan idenya melalui pameran fotografi berskala kecil dengan tema "Architorture". Pameran yang mengilustrasikan efek-efek negatif dibalik pembangunan gedung-gedung mewah pencakar langit. Macet, pemadatan penduduk, dan masalah-masalah sosial yang sedikit merugikan. Dia mampu mencetuskan ide-ide yang tidak terpikirkan oleh yang lainnya. Itulah pemikirannya yang membuat aku bangga. Hanya satu hal yang tidak aku suka darinya. Selalu menyimpan masalahnya sendiri. Dia menganggap bahwa hanya kebahagiaan yang pantas untuk ceritakan, tidak dengan kesedihan.
Sejak aku mengenalnya siang itu, aku merasa ada hal baru yang mewarnai hari-hariku. Kali ini tidak hanya senja sore yang menjadi pujaanku. Kini ada pelangi yang telah hadir dalam hidupku. Pelangi yang muncul disetiap hari-hariku. Kehadirannya tidak hanya sesaat setelah awan mengguyurkan air hujan yang kemudian terlihat samar dalam beberapa menit lalu menghilang. Tetapi dia, abadi. Dialah pelangiku. Satu hal terkonyol yang sering kita lakukan adalah berebut irisan tomat segar disetiap kita sedang makan tanpa menghiraukan pengunjung yang lain menggelengkan kepala mereka melihat kelakuan kita. Kita hanya tertawa kecil menyadari hal itu. Dan itu selalu terjadi dimana pun saat kita sedang makan. Selalu berebut irisan tomat dan menyisakan irisan-irisan mentimun yang tertata rapi di pinggiran piring. Mentimun bisa membuat darah rendah menghampiriku jika aku memakannya. Untuk itulah dia melarangku menyentuh mentimun meskipun terlihat sama segarnya seperti tomat yang kita rebutkan. Sedikit tercampakkan.
Hari demi hari semakin mendekatkan aku dengannya. Hampir seluruh waktuku aku habiskan bersamanya. Bercanda dan tertawa kita bersama, bahkan menjerang senja pun kita lakukan bersama. Sore itu hari sangat cerah. Langit terlihat begitu kokoh tanpa awan mendung. Bersamanya aku menulusuri jalan menuju pantai untuk menyapa sunset. Mencoba mengabadikan cahaya-cahayanya yang sendu.
"Masih jauh ya?"
"Enggak, bentar lagi kok"
"Nah tuh gapura pintu masuknya udah keliatan"
"Iya". Dia tersenyum
Aroma pantai sudah tercium sejak kita memasuki gapura pintu masuk. Tak jauh, sekitar tiga kilometer jarak menuju pantai dari gapura. Pantai itu adalah tempat wisata. Sesampainya di pantai, langit-langit masih terlihat biru. Kita sampai pantai lebih dulu dari sunset. Disela-sela menunggu kehadirannya, kita bersenda gurau berlari-lari melawan arah angin. Menelusuri setiap jengkal pantai yang luas.
"Lari yuk?" Suaranya hampir tak terdengar ditelan angin pantai yang cukup kencang.
"Hah, apa?" Tanyaku untuk menyakinkan apa yang aku dengar.
"Balap lari, yang sampai ujung duluan dia yang menang" Jelasnya.
"Yakin?...Okelah yuk".
Aku memegang erat kamera yang aku silangkan di bahuku. Dalam hitungan ketiga, aku dan dia berlari sekencang mungkin berlomba-lomba menuju ujung pantai. Rambutnya yang teruari tertiup angin membuat mataku semakin tak ingin berpaling darinya. Sambil berlari aku menatapnya. Aku sengaja berlari agak pelan supaya aku bisa melihatnya dari belakang dengan rambut nya yang terlihat seperti sedang menari tertiup oleh angin. Dia mendahuluiku sampai di ujung pantai. Dia tertawa merayakan kemenangannya. Tawa itu sangat bahagia. Sesaat aku mengabadikan kebahagian yang kita rasakan saat itu. Menyimpulnya kuat-kuat dengan lensa kamera milik Farlos. Dan disitulah aku pertama kali menggandeng tangannya.
Saat senja sudah mulai terlihat, kebahagianku semakin terasa sempurna karena sore itu aku tidak lagi menikmati senja sendirian seperti yang lalu. Aku seperti melihat pelangi muncul diantara senja. Hanya aku yang bisa merasakannya saat dia menari-nari sambil tertawa riang di bawah langit yang berwarna keemasan dan diantara cahaya matahari yang bersinar manja. Ingin sekali aku memeluknya.
Setelah hari-hari yang kita lalui bersama, hampir setiap harinya dihiasai dengan tawa kita berdua, tanpa ada air mata dan isak tangis. Menginjak tanggal 28 Oktober 2012, bertepatan dengan hari ulang tahun dia, kita resmi berpacaran. Saling membagi perasaan kasih sayang diantara kita. Semenjak hari yang bersejarah itu, dia selalu ada untukku. Selalu memposisikan dirinya di sampingku saat aku sedang kesusahan. Bahkan saat aku sakit, disela-sela dia menyeleseikan tugas akhir kuliahnya, dia selalu setia berada disampingku untuk menemani dan merawatku. Dia seperti bidadari yang dikirim Tuhan untuk menjagaku disaat-saat aku sedang lemah. Sedangkan aku, aku berusaha untuk selalu seperti itu.
Hampir di keseluruhan hari kisah cinta aku dan dia tidak pernah dinodai dengan pertengkaran, hanya kecerian yang selalu menyelimuti setiap langkah yang kita jalani. Setiap detik-detik waktu berlalu, ada hal baru yang bisa membuat kita tertawa lepas dan membuat aku semakin dekat dengannya. Keyakinanku cukup kuat bahwa cinta ini adalah cinta nyata yang akan berakhir dengan masa waktu usia. Seperti daun yang selalu setia melekat pada dahan hingga pada akhirnya daun itu akan terjatuh dari dahannya karena sudah menguning dan tak mampu lagi bernafas. Daun yang tidak akan pernah terlepas jika tidak ada yang memetik dan merusaknya. Tapi aku salah, seiring berjalannya waktu yang semakin menua. Aku sadar hubungan diantara aku dan dia hanya menciptakan air mata baru yang terus mengalir tanpa henti. Air mata yang menghapus mascara hitam di matanya hingga meleleh mengkotori kedua pipinya. Hal itu terjadi saat masa lalunya kembali muncul memasuki celah-celah kehidupan yang kita jalani. Dia terombang-ambing oleh perasaan yang dia rasakan. Dia mencintai keduanya. Aku dan masa lalunya. Namun yang aku rasakan sangat berbeda. Dia, yang aku anggap sebagai pelangi yang tak hanya muncul sesaat setelah hujan turun, tak lagi seperti itu. Lenyap. Dia tak lagi menganggapku ada saat masa lalunya datang kembali ke kota Jogja. Aku merasa seperti anak tiri yang tak tahu ibu kandungnya. Sejak saat itu aku sadar bahwa aku hanya bola rebound yang terjatuh pada suatu tempat disaat yang salah.
"Aku mencintamu. Tapi aku aku juga menyayangi dia" Ucapnya lirih di
sela-sela isak tangisnya. Kekonyolan yang nyata yang mampu merusak
sistem kerja hati secara normal sesaat ketika aku mendengar kata-kata
itu keluar dari mulutnya. Aku tersentak kaget dan terdiam. Kata-kata itu
seperti bilah pedang yang menghunus dan mencabik-cabik rongga mulutku
hingga tak mampu berucap apa-apa. Kata-kata itu merusak mimpi-mimpi yang aku bayangkan bersamanya selama ini. Mimpi yang sangat luas yang tertanam dipikiranku sejak detik-detik dia meniup lilin-lilin kecil dihari ulang tahunnya. Kata yang terlanjur terucap dari bibirnya merubah segalanya. Menjadikan mimpiku tak lebih luas dari hamparan pantai yang pernah kita injak bersama. Mimpi yang tak lagi seindah cahaya senja sore di pantai itu.
"Aku benci. Aku muak. Aku murkaaaa..!!!" Dalam hati aku berteriak namun tak kuasa aku mengucapnya dengan lantang. Saat di sampingku, dia menangis. Dia berucap dengan yakin bahwa dia benar-benar mencintaiku. Namun aku tak pernah benar-benar merasakan cinta yang nyata sejak masa lalunya kembali mengetuk pintu kehidupannya dan perlahan memasukinya. Dia kembali benar-benar mencintaiku saat masa lalunya beranjak dari kehidupanku dan dia untuk sesaat. Hanya sesaat. Hingga akhirnya dia meninggalkan hati yang terluka demi masa lalunya.
__________________________________________________________________________________
Setelah malam, terbitlah fajar.
Namun aku, tidak. Aku selalu disini menemani.
Disaat kau sedih, aku tak kuasa berlari lalu pergi. Disaat kau tertawa,
aku tak kuasa menghapusnya.
Aku tak sanggup melihatmu menahan
beban-beban cinta itu sendiri.
Semestinya tidak menimbulkan amarah,
karena itu adalah cinta yang selayaknya bisa memelukmu dengan kasihnya.
Jangan sedih, aku masih disini menunggumu bersama mentari.
Tersenyum dan
tertawalah kaerna aku selalu mencoba untuk membuatmu tenang saat malam
kembali datang.
Disini aku tetap menunggu bersama sisa-sisa waktu yang
terus berlalu.
Tak peduli sampai kapan akan berhenti, disini aku ada
untuk menemani. Itu janjiku karna "Aku Sayang Kamu"..
*Janjiku yang tak lagi ku genggam saat dia memutuskan untuk pergi dan kembali ke pelukan masa lalunya*
*Janjiku yang tak lagi ku genggam saat dia memutuskan untuk pergi dan kembali ke pelukan masa lalunya*
_________________________________________________________________________________
Aku tidak membencinya. Aku hanya menganggap dirinya sebagai sosok masa lalu yang mampu memberikan pelajaran padaku untuk lebih waspada. Thanks to her.
Tiga hal yang selalu mengingatkanku tentang hubungan aku dan dia sampai saat ini. Saat-saat aku dan dia menjerang senja bersama di pantai itu, hari spesial ditanggal 28 Oktober 2012, dan kata-kata MIYABI.
NB: Untuk kawan-kawanku (sahabat kamera), semoga kalian bisa menjadikan suatu hubungan sebagai ketetapan hati. Karena itu bukan suatu permainan atau gubuk reyot yang untuk kau datangi sebagai tempat berteduh saat hujan, lalu kemudian kau tinggal pergi ..
Cheers :)
Tiga hal yang selalu mengingatkanku tentang hubungan aku dan dia sampai saat ini. Saat-saat aku dan dia menjerang senja bersama di pantai itu, hari spesial ditanggal 28 Oktober 2012, dan kata-kata MIYABI.
NB: Untuk kawan-kawanku (sahabat kamera), semoga kalian bisa menjadikan suatu hubungan sebagai ketetapan hati. Karena itu bukan suatu permainan atau gubuk reyot yang untuk kau datangi sebagai tempat berteduh saat hujan, lalu kemudian kau tinggal pergi ..
Cheers :)






0 komentar:
Posting Komentar