Like Me on Facebook
Follow Me on Twitter
Recommend Me on Google Plus
Subscribe me on RSS

Sabtu, 24 Agustus 2013

Terikat Peraturan

Leave a Comment

 "Enggak, aku gak mau masuk pesantren, belajar di pesantren. Pokoknya gak mau. Di sana enggak ada kebebasan" Rendra.


Rendra medorong tubuhku hingga aku tersungkur ke tanah. Dia berlari kencang meninggalkanku sendirian di tengah lapangan di bawah terik matahari yang kurang bersahabat. Dia merasa kecewa dengan keputusanku untuk melanjutkan sekolah di kota lain. Dia tak ingin aku pergi. Aku mengerti perasaan yang dia rasakan saat itu karena aku juga merasakan hal yang sama. Aku juga tak ingin berjauhan dengannya. Dia marah. Bahkan dia menudingku kalau aku bukan teman yang setia. "Rendra, ini bukan kemauanku. Aku hanya menuruti kata-kata orang tuaku. Maafin aku" batinku berteriak. "Rendra...".
.......................................

Rendra adalah sahabat kecilku. Anak yang baru saja lulus SD yang mampu mengucapkan kata "kebebasan" saat umurnya yang masih terbilang ingusan. Saat itu aku tak mampu untuk mengartikan apa makna kebebasan dan apa yang dimaksud Rendra dengan mengucapkan kata itu diakhir percakapannya. Kita baru saja lulus SD seminggu yang lalu. Yang aku tahu hanya "bebas". Hidup sesuka hati, tanpa harus ada yang mengatur dan menghiraukan. Bebas selalu mempunyai aturan-aturan yang harus dijalani supaya tidak melampaui batasan dari kata "bebas". Terbatas. Itu kata ayahku. Bagiku, hidup dimana pun ada aturan. Tidak sebebas yang difikirkan anak kecil ingusan seperti Rendra.

Rendra tergolong anak yang berkarakter anti peraturan. Hidupnya tidak ingin terbatasi oleh segenggam aturan-aturan, terlebih lagi dengan kedisiplinan. Rendra menciptakan ruang bagi dirinya sendiri. Menurutnya, peraturan hanya akan mengurung seseorang dari pergerakan yang luas. Seperti jeruji yang membatasi langkah kaki kita untuk terus berjalan, bahkan berlari. Dan Rendra menganggap pesantren adalah penjara yang penuh dengan kesopanan. Meskipun mempunyai watak yang keras, Rendra sangat menyayangi keluarganya. Terlebih dengan adik perempuannya. Dia selalu menjmeput adiknya setiap jam pulang sekolah karena mereka memang berbeda sekolah.

"Aku harus mempunyai aturan sebelum mengenal kebebasan yang sesungguhnya" hati kecilku berbisik.

Hari itu pagi masih sangat gelap. Mentari belum menyapa kehadiranku pada saat itu. Cahayanya belum terlihat di sudut-sudut tembok rumahku yang berwarna orange kecoklatan. Dingin. Aku memasukkan barang-barang yang sekiranya aku butuhkan. Pakaian dan peratan mandi. Di sela-sela itu, aku sesekali menengok ke arah luar jendela. Sepi. Jalanan masih kosong. Tak ada aktifitas. Tanda-tanda kehidupan masih belum terlihat. Sunyi.

"Udah siap semua?".

"Sudah".

"Masih ada yang dibutuhkan gak?".

"Sudah cukup kok, Yah".

Aku masih melihat ke arah luar jendela ketika percakapan kami berlangsung. Membelakangi ayahku. Terdengar suara sandalnya yang berjalan mendekatiku. Dia menyentuh pundakku dengan remasan kecil. Kemudian menatapku penuh arti. Aku mengerti maksud dari tatapan itu. Dia mencoba meyakinkan apakah aku sudah benar-benar siap meninggalkan tempat yang selama ini jadi pelindungku. Aku hanya tersenyum. Aku hanya tidak menyangka akan secepat ini mengucapkan perpisahan meninggalkan kampung halamanku. Dan meninggalkan Rendra. Sahabat yang selalu ada saat aku membutuhkannya. Sahabat yang selalu menemaniku main bola di hari libur sekolah.


Hari mulai terang. Langit sudah terlihat sedikit membiru dengan serat-serat awan putih yang bersih. Sudah dua jam kami menunggu supir yang akan mengantarkan kami. Aku melihat ayahku duduk di teras dengan dua cangkir kopi yang sudah kosong berada di sampingnya. Sedangkan ibuku duduk di ruang tamu depan bersamaku. Sesekali ibu melihatku dan melemparkan senyuman hangat. Aku membalas senyuman itu. Tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti di depan rumahku. Rumah yang sebentar lagi aku tinggalkan untuk jangka waktu yang lama.

Aku berharap bisa mengucapkan perpisahan dengan sahabat baikku, Rendra. Tapi aku tak melihatnya pagi itu. Dia tak menghampiriku ke rumah saat detik-detik keberangkatanku. Apa mungkin dia masih marah padaku atas kejadian kemaren di lapangan? Entahlah. Aku hanya ingin pergi baik-baik dan mengucapkan salam perpisahan untuk sementara.

"Supirnya sudah datang. Ayo berangkat" kata ayahku sambil meletakkan dua cangkir kopi yang kosong di atas meja.

Aku bergegas mengambil barang-barangku. Berat rasanya meninggalkan semua yang aku punya. Ayah, ibu, adek-adeku, tanah kelahiranku dan Rendra. Aku tak mengucapkan sepatah kata pun daritadi. Di dalam mobil, aku hanya duduk terdiam di jok tengah tepat di samping pintu ditemani ibuku. Terdiam. Sedangkan ayah duduk di depan bersampingan dengan pak supir. Mengajaknya ngobrol ringan yang terdengar sangat seru. Aku mendengar suara percakapan mereka. Tawa-tawa kecil mereka. Namun aku sama sekali tak menghiraukan apa isi pembicaran dua orang laki-laki yang berada di depanku. Aku terus melihat ke arah luar jendela sambil menyandarkan tubuhku. Memperhatikan inci demi inci ke adaan desa yang akan ku tinggalkan. Mentari perlahan sudah mulai bersinar. Cahayanya hangat menerobos masuk melalui kaca jendela mobil. Aku yakin mentari pagi itu mengucapkan selamat jalan padaku. Aku sadar aku tidak akan lagi mengucapkan selamat pagi untuk mentari pagi di desaku. Tapi mengucapkan selamat pagi di desa tempat sekolah baruku berada. Selamat tinggal mentari pagi desaku. Selamat tinggal desa kecilku.

Mobil yang kami tumpangi perlahan memasuki jalan raya. Samar aku melihat bayangan tubuh Rendra dari kejauhan. Di tepi jalan. Aku sedikit terbangun menyakinkan bahwa itu benar-benar dia. Iya, itu Rendra. Dia melambaikan tangan kanannya pertanda megucapkan selamat jalan untukku. Sedangkan tangan kirinya memegang erat bola yang selalu kami pakai bermain bersama. "Rendra..." dengan suara agak tertahan aku menyebut namanya. Dia berlari di seberang jalan mengikuti laju mobil yang aku tumpangi. Dari dalam mobil aku bisa melihatnya berhenti berlari dan tertunduk lesu. Ingin rasanya aku menangis melihat tubuhnya yang perlahan menghilang ditelan oleh jarak. Aku masih ingin bermain bola bersamanya saat libur sekolah. Aku masih ingin mengusili guru-guru yang sedang mengajar di kelasku bersama dia.

Ibuku menyadari akan hal itu. Dia mengusap-usap tanganku dan meremasnya dengan lembut. Aku memandangnya. Dia hanya tersenyum. Lalu aku kembali menyandarkan tubuhku dan menempelkan kepalaku di kaca jendela mobil. Tak ada aktifitas. Ayahku tetap mengobrol asik dengan pak supir tanpa menghiraukan kita. Sesekali ayahku hanya melihat kebelakang memastikan semuanya baik-baik saja. Tersenyum. Lalu kembali mengobrol dengan pak supir.

"Kamu kuat. Kamu pasti bisa jalanin semuanya nanti", ibuku membisikkan kata-kata itu di telingaku.

"Iya. Aku kan anak ibu dan ayah" jawabku meyakinkan.

Semua yang aku ucapkan seakan benar-benar seperti yang aku inginkan. Tapi semua itu berbalik dengan apa yang aku rasakan. Tadinya aku rasa harus mengerti aturan-aturan sebelum mengenal apa itu kebebasan. Tapi kini sirna seutuhnya. Aku tak lagi memikirkan hal itu. Hati ini rasanya bergejolak melawan setiap kata-kata yang terucap dari mulutku. "Aku akan kehilangan masa kecilku. Aku akan menghadapi berbagai jenis aturan-aturan yang tak aku kenal sebelumnya. Aku ingin kembali pulang". Perasaan itu terus berbisik menusuk telingaku. Sangat mengganggu. Tapi itulah sebenarnya yang aku rasakan. Aku tak ingin berjauhan dengan Rendra. Aku tak ingin kehilangan semua itu. Masa kecilku, sahabat kecilku dan desa kecilku. Tapi aku tak berdaya. Keinginan orang tuaku untuk menyekolahkanku di pesantren lebih besar dibanding suara-suara yang terus mengusik telingaku. Yang lebih menyiksa lagi, suara-suara itu hanya aku yang bisa mendengarnya. Tidak dengan kedua orang tuaku.

Selama perjalanan aku tetap melihat keluar jendela. Memandangi hamparan luas sawah-sawah yang masih hijau. Pertanda musim panen masih jauh. Tiba-tiba mata ini mulai terasa berat. Pemandangan-pemandangan di luar terlihat semakin kabur. Aku mengantuk. Dan tertidur.

"Sayang, bangun nak. Udah mau sampai" Ibu mengelus-elus kepalaku.

"Sampai mana bu?" Setengah sadar aku bertanya.

"Sebentar lagi sampai tempatnya".

Aku merapikan pakaianku yang sedikit acak-acakan. Cukup lama rasanya aku tertidur selama dalam perjalanan. Aku melihat-lihat ke luar jendela mencoba mencari tahu dimana aku sekarang. Dan tak sengaja mataku menangkap tulisan "Selamat datang di kota Reog Ponorogo" yang terpasang di atas gapura raksasa yang melintang diantara dua sisi jalan. Hanya tulisan itu yang terlihat jelas olehku. Dalam hati aku bertanya pada diri sendiri, apakah ini benar-benar kota?. Sepertinya tidak ada suasana hiruk-pikuk kehidupan kota. Suasananya sama sekali tidak menggambarkan keadaan kota. Ini sama seperti desaku. Biasa-biasa saja. Mobil yang kami tumpangi terus saja berjalan. Hingga terlihat pemandangan sawah-sawah hijau mirip seperti yang aku lihat saat pertama kali mobil ini berangkat meninggalkan desaku. Tidak ada yang membedakan.

Di tengah lamunanku, tiba-tiba pak supir membelokkan arah mobil memasuki pagar dan melewati lorong gedung yang bertingkat hanya dua lantai. Namun terlihat sangat besar dan panjang. Sepertinya sangat kokoh. Sesaat setelah melewati lorong itu, sejenak aku terperangah. Ternyata masih terdapat gedung-gedung yang sama dengan halaman yang sangat luas di balik gedung dua tingkat yang kami lewati tadi. Terdapat lapangan basket dan bola di halaman tersebut. Lapangan bola yang tak berumput. Terlihat sangat gersang. Aku melihat anak-anak seumuranku yang sedang bermain basket. Sebagian dari mereka bermain bola ditengah deburan-deburan debu yang terbawa oleh tiupan angin. Mereka tertawa riang. "Benarkah mereka sebahagia itu hidup disini?" aku bertanya pada diriku sendiri.

Mobil berhenti di depan bangunan tempat pengasuh pesantren. Ayahku membuka pintu lalu turun. Aku melihat dari dalam mobil ayahku mendekati seseorang yang berada disitu. Mungkin itu pengurusnya. Mereka berbincang-bincang. Entah apa yang dibicarakan. Tak lama ayahku kembali mendekati mobil dan mengetuk kaca jendela dimana aku dan ibuku berada. Dengan cekatan ibuku membukakan kaca jendela.

"Harus ngisi formulir dulu" kata ayahku singkat.

"Ayo" ajak ibu sambil menatapku.

Aku dan ibuku segera turun dari mobil. Sedangkan pak supir tetap menunggu di mobil. Hawa panas terasa menusuk kulitku seketika keluar dari mobil. Ibuku mengercitkan matanya pertanda merasakan hal yang sama denganku. Kami berdua segera mengikuti ayah dari belakang. "Ini diisi" ayahku menyodorkan formulir pendaftaran yang harus aku isi. Aku mengisinya singkat. Sesuai yang diajukan dalam formulir tersebut. Jika ada yang tak ku mengerti, aku menanyakannya pada ayah. Dia membimbingku mengisi formulir itu hingga selesei. Dua lembar formulir yang bagiku sama sekali tidak penting. Mungkin bagi mereka penting. Tapi bagiku itu tetaplah dua lembar kertas putih yang berisikan riwayat hidup.

"Namanya siapa?" tanya seorang pengasuh sok akrab. Aku hanya menyodorkan formulir yang sedari tadi aku pegang dengan harapan dia membaca namaku dan tak menanyakan lagi. Dan dia membaca namaku yang tertulis di formulir tersebut. "Bagus ya namanya" responnya memuji. Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Namun tetap bersifat dingin. Seandainya Rendra berada disini bersamaku, pasti aku akan lebih bahagia. Tidak bersifat dingin dan kaku sama orang yang sok akrab yang belum aku kenal.

Ayahku mengurusi semua administrasi yang dibutuhkan. Aku hanya menunggu tenang di ruang tunggu bersama ibuku. Aku hanya diam merenung selama menunggu. Mengetahui hal itu, ibuku merapatkan duduknya mendekatiku dan memelukku. Sepertinya dia bisa merasakan apa yang ada di pikiranku. Ingin menangis teriak rasanya. Tapi aku mengurungkan perasaan itu. Aku tak ingin mengecewakan dua orang yang selama ini menjadi panutanku. Kurang lebih dua jam setengah aku menunggu ayahku menyeleseikan semua urusan administrasi karena banyaknya yang daftar pada saat itu. Kemudian ayahku datang menghampiri kami.

Aku resmi terdaftar sebagai siswa disini. Siswa baru lebih tepatnya. "Huft.." aku menarik nafas dalam-dalam. Aku tak percaya. Aku berharap ini hanya sebuah mimpi dan aku akan berada di rumah saat aku terbangun. Tapi semua ini nyata. Ini hari pertamaku mengikuti aktifitas dengan segenap peraturan-peraturan yang membebani. Terlebih lagi peraturan yang mengharuskan mengenakan identitas kemana pun, harus mengantre saat mandi dan makan. Membosankan dan menjemukan. Rasanya seperti berada dalam penjara. Hanya penghuninya yang membedakan antara penjara dan pesantren. Mungkin ini adalah penjara suci.

Menginjak hari kedua, ayah dan ibuku meninggalkanku sendirian di pesantren itu. Mereka pulang. Aku merasa seperti baru dilahirkan. Dipaksa untuk mengenal keadaan yang sebenarnya aku enggan untuk mengenalnya. Apalagi bermukim di dalamnya. Muak. Harus mengikuti semua aturan-aturannya. Jika tidak, aku akan dihukum. Dijemur, dijadikan bahan tontonan atau diperintah untuk berlari memutari lapangan bola beberapa kali putaran. Sungguh menyiksa. Sedikit saja melanggar bisa menjadi bahan untuk mengorek kesalahan-kesalahan yang lainnya. Benar-benar seperti narapidana.

Pernah suatu saat aku sengaja melanggar aturan. Saat itu sudah memasuki tahun ketiga. Aku melanggar karena tidak mengenakan identitasku. Papan nama yang selalu dilekatkan pada baju tepat di atas saku sebelah kiri. Aku tidak ingin memakainya karena itu bisa melubangi baju-bajuku. Salah satu pengurus pesantren mencium gelagatku tentang hal itu. Aku dipanggil ke bagian keamanan. "Panggilan ke Bagian Keamanan ba'da sholat maghrib saudara bla bla bla bla" kurang lebih terdengar seperti itu. Sehabis sholat maghrib aku pergi kesana. Sesampainya disana, aku melihat tiga orang pengurus duduk dikursi yang siap mengintrogasiku.

"Kenapa kamu gak pakai papan namamu?" salah satu dari mereka menanyaiku.

"Hey, pasti kamu sering melanggar peraturan disini?" satunya lagi menyaut.

"Kamu sudah bosan ya disini?" Lengkap sudah mereka bertiga menanyaiku.

"Wait, aku hanya melanggar kesalasahan kecil. Kenapa kalian menghantamku dengan pertanyaan yang bertubi-tubi dan menudingku melakukan kesalahan yang lainnya. Kalian berlebihan", dalam hati aku memberontak. Namun aku tak berani untuk mengucapkan semua itu dengan mulutku. Jika aku melakukannya, aku akan mendapat hukuman yang lebih berat karena melawan pengurus. oh, shit. Senioritas yang biadab. Senioritas yang menjadikan para pengurus selalu merasa bahwa diri mereka paling benar. Tak henti-hentinya mereka mengintrogasi seakan aku adalah pelaku tindak pidana yang merugikan banyak orang. Padahal, ini hanyalah persoalan kecil. Tidak memakai papan nama. Aku benci hukum senioritas disini. Dimana pun. Aku sangat membenci itu. Aku tak bisa melawan mereka meskipun mereka salah. Rasanya aku tak punya hak untuk membela diri karena itu sama saja akan dianggap menentang mereka. Yang bisa aku lakukan hanya pasrah dan mendengar setiap celotehan dan tudingan-tudingan yang keluar dari mulut besar mereka. Sial.

Aku dihukum karena kesalahanku tidak memakai papan nama. Mereka memaksaku untuk memakai lima papan nama sekaligus selama satu minggu. Hukuman yang membuat aku ingin selalu menutup wajahku selama berjalannya aktifitas sehari-hari. Aku ingin cepat-cepat keluar dari kehidupan ini. Yang dibatasi oleh tembok-tembok pembatas yang memisahkan dengan dunia luar. Gerak-gerik semuanya diawasi. Bahkan para penghuni pesantren tidak diperbolehkan untuk berinteraksi dengan dunia luar. Dengan penduduk-penduduk sekitar. Sangat terbatas. Aku jadi teringat kata-kata yang diucapkan Rendra sebelum aku pergi kesini. Tidak ada kebebasan.   

Kurang lebih empat tahun lamanya aku sudah mejalani hidupku di balik tembok ini. Meskipun aku sudah mengenal beberapa teman, tetap saja aku merasa muak untuk tetap tinggal disini karena mereka tak ada yang seperti Rendra. Selama empat tahun disini, aku sudah cukup mengenal suasana setiap sudut-sudut lingkungan sekitar. Pikiranku untuk cepat-cepat keluar dari tempat ini memaksaku untuk merencanakan sesuatu yang besar. Saat itu bertepatan pada hari pemilu. Dimana semua pengurus pesantren akan sibuk karena, biasanya, di hari seperti ini para pejabat akan berkunjung ke pesantren untuk sekedar meminta doa restu pada kyai dan para santrinya. Aku merencanakan kabur saat pengasuh dan pengurus-pengurus pesantren sibuk menyambut kedatangan para pejabat. Sebelumnya, di tahun kedua, aku pernah mencoba untuk kabur meskipun gagal karena tak tahu arah jalan dan aku memutuskan untuk kembali ke pesantren. Tapi kali ini aku yakin semua akan berjalan lancar.

"Besok akan jadi hari kebebasanku," pikirku. Malam itu aku berniat tidur lebih awal untuk rencana hari esok. Dari luar asrama aku mendengar samar-samar suara kesibukan para pengurus mondar-mandir. Suara itu semakin samar jauh terdengar. Hingga aku tak bisa lagi mendengar suara itu.

"Kamu baik-baik ya sayang. Jangan nakal, jangan bandel. Sayang kamu"

Aku tersentak kaget. Aku merasa ada suara yang membisiki telingaku. Jelas sekali. Aku sangat mengenal suara itu. Itu suara ibuku. Tapi dari mana suara itu berasal. Aku sedang tidak di rumah. Ibu juga pasti memberitahu aku kalau ingin menjengukku. Lagi pula ini masih larut malam dan tamu dilarang memasuki kawasan asrama. Aku melihat ke arah luar jendela dan langit pun masih terlihat hitam pekat. Jarum jam masih menunjukkan angka dua. Hmmm, teryata aku bermimpi. Mimpi yang nyata sekali. Seakan ibu berada disampingku saat aku mendengar suara itu. Aku tak mampu lagi memejamkan mata untuk kembali tidur. Kata-kata ibu di mimpiku terus terngiang-ngiang dalam ingatanku. Aku gelisah. Aku panik. Aku tidak lagi mengantuk. Hingga menjelang subuh mata ini tetap terjaga. 

Meskipun orang tuaku yang memaksaku belajar disini. Aku tetap tak ingin mengecewakan mereka. Terutama ibuku. Dia yang selalu menguatkan aku dalam segala situasi. Dialah ibu yang selalu berbicara lembut saat menasehatiku. Perlakuan yang benar-benar membuatku tidak ingin mengecewakannya. Aku mengurungkan niatku untuk lari dari semua kehidupan disini. Gagal lagi. Tapi kali ini berbeda. Kegagalan karena kasih sayang seorang anak terhadap orang tua. Tulus. Aku hanya harus bertahan sampai masa belajarku habis. Sangat menyiksa.

Pagi hari itu sekolah libur. Para santri berkumpul di aula gedung pertemuan. Mereka bercanda satu sama lain. Suara tawa mereka memantul disetiap sudut dinding aula. Bersaut-sautan. Keadaan seperti itu tidak akan bertahan lama. Tawa mereka perlahan akan segera menghilang. Berubah menjadi rasa jenuh dan membosankan. Jenuh karena harus menunggu mereka berjam-jam untuk sampai di pesantren. Bosan karena harus mendengarkan ceramah dari mereka yang bagi kami tidak penting. Mungkin mereka beranggapan kami merasa senang kedatangan tamu penting petinggi negara seperti mereka dengan melihat para santri melambaikan tangan saat mereka tiba memasuki pesantren. Tidak. Itu hanya kamuflase. Kami, para santri, sama sekali tidak peduli. Kami hanya peduli pada satu hal disaat seperti itu. Libur sekolah. Selebihnya tidak.

Satu persatu berpidato. Pengang rasanya telingaku mendengarkan setiap bait kata yang diucapkan mereka. Kata-kata bualan yang tak lebih dari sekedar basa-basi yang berujung permintaan dukungan kepada kami dan para kyai. Meminta doa restu agar mereka terpilih. Supaya berkah katanya. Bullshit. Aku cukup tahu sikap manis orang-orang seperti mereka saat menginginkan sesuatu. Aku rajin baca berita politik di surat-surat kabar yang terpasang di etalase yang ada di sekitar pondok. Selalu mengikuti siklus perkembangan dunia politik di luar sana yang memberitakan kelakuan para politisi. Sering mendapati berita tentang korupsi yang banyak dilakukan oleh orang-orang seperti mereka. Karena itulah aku tahu maksud bulus mereka. Aku tak benci politik. Aku hanya membenci para pelakunya. Walaupun ada yang baik diantara mereka. Tapi kebanyakan dari mereka terjerat kasus yang memalukan.

Suasana disini semakin tidak menyenangkan. Setiap harinya, pagi, siang dan malam serasa tak bersahabat dengan keberadaanku disini. Begitu juga dengan senja ditempat ini. Cahayanya tidak menghangatkan. Keberadaanya tidak mampu memberikan ketenangan. Berbeda dengan senja di desaku. Tentram. Cahayanya selalu membawa kesejukan di pagi hari dan memberikan kehangatan di waktu sore tiba. Aku bisa merasakan saat cahayanya lembut menyentuh kulitku. Seakan membelai mesra. Aku semakin merindukan senja di desaku seperti aku merindukan Rendra saat bermain bola bersamaku. Sudah empat tahun aku tak bertemu Rendra. Entah berada dimana dia sekarang. Setiap akhir tahun saat liburan semester tiba, aku selalu kembali ke desa berharap bisa bermain-main lagi dengannya seperti dulu meskipun hanya sebentar. Tapi aku tak pernah melihat sosok Rendra berada disana. Tak ada kabar sama sekali. Saudaranya bilang kalau dia ikut pamannya pergi ke pulau seberang sejak kepergianku. Dia tak ingin mengenang sendirian masa-masa kita bersama. Karena itu dia memutuskan untuk meninggalkan desa. Sudah empat tahun pula dia tak kembali ke rumah. Ingin sekali aku mencarinya. Tapi hidupku disini terbatas. Dikelilingi oleh tembok penghalang dan gedung-gedung yang menutupi alam luar. Aku hanya bisa mengenangnya selama aku berada disini.

Hari demi hari aku menjalani aktifitas yang sama. Rasanya seperti mengulangi hari-hari yang sudah berlalu. Satu hal yang bisa membuat aku bertahan hanyalah sepak bola. Di pesantren ini ada empat klub sepak bola dan aku ikut bergabung di salah satunya. Dengan begitu aku bisa bermain bola setiap hari di waktu pagi dan melupakan sejenak keletihanku terhadap semua aktifitas yang menjemukan. Dan dengan begitu pula aku bisa mengenang masa laluku bersama Rendra.  


NB: Picture is taken from Google

0 komentar: