Siang ini langit begitu hitam, angin ribut menerpa setiap pepohonan, hujan tak henti-hentinya menyirami hampir seluruh kota dengan derasnya. tak banyak yang bisa ku lakukan, hanya tatapan kosong dan suara gemuruh yang menemaniku saat ini, terlihat hidupku terombang-ambing oleh waktu bagaikan sehelai kapas yang selalu mengikuti arah angin bertiup. Bosan rasanya, hari-hari selalu dihiasi dengan rintikan suara hujan, berisiknya gemuruh angin, dan awan hitam yang selalu menghiasi setiap sudut kota.
Apa yang terjadi sebenarnya, kenapa hari-hari selalu dihiasi dengan hujan yang begitu lebat dan berdampingan dengan angin kencang yang mampu mengobrak-abrik tatanan isi kota. Apa Tuhan marah karena aku bertanya tentang rencana-Nya ataukah ini hanya musim hujan yang setiap tahunnya berjalan mengikuti giliran? Lagi-lagi hanya Dialah yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Sedangkan aku, apa yang aku tahu, aku sekedar berpandangan bahwa ini adalah hujan yang hanya terjadi di saat musimnya.
yah itulah pandangan sewajarnya seorang manusia biasa.
Hari terus berjalan tanpa menghiraukan keadaan sekitar, waktu pun berputar tak henti tanpa mengerti apa yang telah terjadi. Semua itu terjadi begitu saja dan tanpa ku sadari hujan telah berhenti, tampaknya dia telah lelah membanjiri kota. Perlahan langit mulai membiru dan mentari bersinar dengan indahnya tanda hari telah membaik. Kini aku bisa meneruskan aktifitasku sama halnya orang-orang yang mondar-mandir untuk menuntaskan aktifitas mereka. Bedanya hanya mereka menjalani hari-harinya dengan sederhana, sedangkan aku selalu di bayangi pertanyaan tentang misteri rencana permainan Tuhan yang sampai saat ini pun aku tidak tahu maksud dan tujuan-Nya. Mungkin akan terasa nyaman hidup tanpa bayang-bayang misteri Tuhan sebagaimana kaum “ILLUMINATI” (persaudaraan kuno yang tergolong orang-orang yang jenius) yang menganggap misteri Tuhan itu fana dengan adanya ilmu pengetahuan. Tapi ku bukanlah orang yang tergolong dalam kaum “ILLUMINATI” penyembah setan dengan segala simbol-simbolnya, sebagai orang biasa yang awam akan tentang seluk beluk Tuhan, selalu terbesit dan tertanam dalam di pusat otakku bahwa misteri tentang rencana-Nya itu nyata.
Di tengah aktifitasku, sembari duduk ku meneguk air minum untuk sekedar menghilangkan rasa dahaga yang menyerang. Tiba-tiba seorang pria tua rentah dan berbadan setengah bongkok datang menghampiriku, lalu duduk tepat disampingku yang sedari tadi tiada yang menempati. “kek, silahkan”, ku ulurkan tangaku dengan sebotol air minum untuk sang kakek. Dia hanya tersenyum dan tak sepatah kata pun terlontar dari mulut keringnya. Tapi sesaat kemudian suasana menjadi bersahabat dengan sedikit obrolan dengan kakek sampai akhirnya ketika kakek berbisik kepadaku “nak, kenapa Tuhan menyiksa kakek dengan kemiskinan yang tak kunjung reda, padahal kakek selalu memuja-Nya?”. Kaget, ku tersentak seketika dengan pertanyaan si kakek yang membuaatku terdiam seribu bahasa. Tak ada jawaban yang bisa ku ucapkan, dan tak sepatah kata pun yang bisa ku jelaskan. Ku hanya bisa diam dan terdiam.
“Tuhan, ribuan kali aku bersujud kepada-Mu, ribuan kali telah ku serukan Asma-Mu. Tapi kenapa tidak sedikit pun ku bisa menjelaskan tentang rencana yang Kau mainkan, dan tak bisa ku menguraikan arti dari Asma-mu walaupun hanya sekedar untuk mengungkapkan “Siapa itu Tuhan?”. Hai Tuhan, jika Kau ada disana dan mendengarku, jawablah pertanyaanku dan jelaskanlah semua tentang Dirimu dan yang Kau rencanakan untuk umat-Mu karena ku yakin ada maksud di balik semua yang Kau canangkan. Ku yakin semua itu ada, sampai temaram senja tak lagi bersinar, ku akan tetap percaya akan semua ini karena ku bukan mereka yang menamai dirinya sebagai “ILLUMINATI”.
Hanya itu, sekedar rangkaian kata-kata itu yang terucap dari suara hatiku karena lidahku tertahan sesaat mendengar kata-kata “Tuhan”. Dan kusadari kini kakek itu menghilang entah di telan bumi entah di bawa angin, hanya jejak kaki rentahnya yang tertinggal di sela-sela rumput liar.


0 komentar:
Posting Komentar