Di sebuah desa terpencil di kota Bandung. Hidup sepasang suami istri yang kaya. Dikaruniahi seorang anak laki-laki yang bernama Tomi. Mereka selalu hidup bahagia sejak kelahiran buah hati yang di impi-impikan telah menjadi kenyataan. "Dream comes true" itulah kata saat ini tepat untuk diungkapkan. Tak ingin anaknya menjadi orang lemah yang mudah putus harapan, Ayah Tomi selalu menasehati kepada anak semata wayangnya dan selalu berpesan seraya berkata “wahai anakku, hidup itu keras tapi janganlah kamu pernah menyerah pada kehidupan”. Begitulah cara sang ayah yang bijaksana ini mendidik mental anak semata wayangnya untuk selalu tegar dengan apa yang dihadapi.
Layaknya anak kecil yang tidak mengerti akan arti dari sebuah kehdupan, Tomi pun bertanya kepada ayahny “ayahku, apa arti dari semua yang ayah ajarkan kepada anakmu ini”. Sang ayah tersenyum kemudian menjawab “suatu saat kamu akan mengerti tentang arti semua ini wahai anakku”. Dari waktu ke waktu tomi selalu bertanya-tanya kepada dirinya tentang apa maksud pesan yang di ucapkan ayahnya itu.
Layaknya anak kecil yang tidak mengerti akan arti dari sebuah kehdupan, Tomi pun bertanya kepada ayahny “ayahku, apa arti dari semua yang ayah ajarkan kepada anakmu ini”. Sang ayah tersenyum kemudian menjawab “suatu saat kamu akan mengerti tentang arti semua ini wahai anakku”. Dari waktu ke waktu tomi selalu bertanya-tanya kepada dirinya tentang apa maksud pesan yang di ucapkan ayahnya itu.
Hari terus berjalan layaknya hukum alam. Tomi, anak kecil yang tak tau makna kehidupan kini beranjak dewasa. Menelusuri di setiap sisi-sisi hidupnya demi memahami makna dari sebuah kehidupan, akan tetapi waktu belum memberikan jawaban dengan jelas.
Mengetahui anaknya telah beranjak dewasa, sang ayah mengajak tomi untuk menelusuri phenomena-phenomena bagaimana untuk bertahah hidup. Akhirnya, ayah Tomi mempercayai dia untuk memanage sebagian usaha miliknya walaupun belum sepenuhnya menaruh kepercayaan kepada Tomi (dalam mengelola usaha). Dengan keputusan ini, sang ayah ingin menunjukkan kepada Tomi bahwa hidup itu keras tetapi hidup juga tidak kejam karena sebagian orang memanggap bahwa hidup itu teramat kejam (Hidup kejam bagi orang-oarng yang tidak mau berusaha).
Sebelum semua ini dimulai, ayah Tomi berpesan sambil berkata “Tomi, belajarlah hidup dari sebuah kehidupan”. Sejenak berfikir, kemudian Tomi menjawab dengan optimis “baiklah ayahku”.
Tomi sebagai pendatang baru yang bergelut dalam dunia bisnis, dia harus berfikir dan bekerja keras untuk mengembangkan usaha ayahnya. Sampai-sampai hampir seluruh waktunya dihabiskan didepan computer untuk mendata semua barang-barang.
Berjalan seiringnya waktu, halangan dan rintangan-rintangan dalam hidupny kini telah bermunculan. Usaha yang di tangani Tomi kini terancam bangkrut. Meskipun begitu, Tomi selalu berusaha untuk tetap memajukan usaha yang ditanganinya. Mencari dan meminjam modal kemana-mana untuk stimulasi kemajuan usahanya. Tapi nasib tidak berpihak kepada Tomi. Usahanya kini sedikit demi sedikit hancur akibat dari dampak krisis global yang menggerogoti perekonomian dunia.
Sebagai manusia biasa, Tomi merasa keputus asaan hinggap dalam dirinya dan dia kini mulai tertekan dan merasa bersalah. Tanpa berfikir panjang, tomi pergi dengan sepucuk surat yang ditulis buat sang ayah. Tomi tidak berani berkata langsung kepada ayahnya karena malu terhadap masalah yang dibuatnya.
“maafkan aku ayah, aku tidak kuat menghadapi semua ini. Hutang-hutang menghantuiku. Mungkin dengan perginya aku bisa menyelesaikan masalah-masalah dan meringankan pikiranku. Sekali lagi maafkan diriku ayah. Aku telah mengecawakanmu”.
Mungkin begitulah gambaran surat Tomi untuk seorang ayah. Sang ayah kini mengerti bahwa tomi belum memahami seluk-beluk kehidupan yang sebenarnya.
Sebagaimana seorang ayah yang menginginkan jiwa yang tegar dan tegas tertanam pada diri anaknya, beliau pun mulai mencari dimana keberadaannya untuk mensehati sikap anaknya yang tak bertanggungjawab itu. Hari demi hari anaknya tak kunjung pulang. Hingga pada suatu saat Tomi sudah tidak lagi bisa menahan rasa salah yang menghantuinya selama ini. Akhirnya, Tomi memutuskan pulang dan mengutarakan semua isi hatinya kepada sang ayah.
Sesampainya dirumah, dengan rasa takut Tomi menemui ayahnya. Sambil meneteskan air mata dia duduk disamping ayahnya dan Tomi mulai mengucapkan kata-kata penyesalan seraya berkata “maafkan tomi ayah, tomi telah membuat ayah kecewa. tomi terpaksa menghindari kenyataan ini karena tomi dikejar-kejar hutang setiap tomi membuka mata”.
Sang ayah kembali bertanya kepada tomi “tomi, berapa hutang yang kamu pinjam”.
Kemudain Tomi menjawab “besar sekali ayah. Utang tomi 386 juta dan tomi tidak bisa mengembaikan hutang-hutang tomi”.
“tomi ingatlah nak bahwa jumlah segitu tidak berarti apa-apa di banding masa depan kamu. Kehilangan uang bisa di cari kembali tapi kehilangan masa depan kamu bagi ayah seperti kehilangan dirimu.” Begitulah kata-kata yang terlontar dari sang ayah untuk menasehati anak semata wayangny itu yang selalu menganggap masa depan anaknyalah yang terpenting dibanding harta yang dimilikinya.
Tomi pun tidak menyangka bahwa ayahnya tidak memarahi dia setelah apa yang dia perbuat. Padahal selama ini dia berfikir ayahnya akan marah besar terhadanya. Sambil menangis terisak-isak tomi memluk erat sang ayah. Air mata terus menetes mengalir dari pipi tomi.
Sang ibu yang lemah hatinya dan tak kuat melihat tangisan anaknya kini mengucapkan sepatah kata dari bibirnya “anakku lihatlah ibumu ini, ibu menangis bukan karena perbuatanmu melainkan ibu menangis karena ibu takut kehilanganmu dan masa depan kamu nak”. Sungguh sifat orang tua yang bijaksana.
Kini tomi mengerti apa maksud dari pesan ayahnya sewaktu dia kecil bahwa masalah-masalah yang menimpa harus dihadapi bukan dihindari. Karna kegagalan bukanlah sebuah keterpurukan melainkan langkah awal kesuksesan.
Kini mereka mulai hidup dan membuka lembaran baru. Kegagalan yang terjadi telah terlupakan. Mereka berjuang bersama untuk memulai karirnya barunya. Akhirnya, dengan keuletan dan konsekuensi yang mereka miliki, usaha yang sekian lama terpuruk akhirnya bangkit kembali. Dan kini tomi pun bener-bener mengerti bagaimana harus menghadi hidupny. Hanya ucapan terima kasih yang terucap dari mulut tomi untuk sang ayah dan ibu.


1 komentar:
Posting Komentar