Like Me on Facebook
Follow Me on Twitter
Recommend Me on Google Plus
Subscribe me on RSS

Jumat, 04 Desember 2009

Surat untuk Ibu

4 comments
Kisah berawal dari sepasang saudara, Amir dan Umar , dua anak kembar yang hidupnya dijalani bersama namun berbeda nasib.

Semenjak mereka beranjak dewasa, kasih sayang ibunda kepada dua anaknya menuai perbedaan. Amir, adik Umar, selalu mendapat perhatian penuh kasih sayang dari ibunda tercinta.

Sedangkan Umar, sang kakak yang selalu berusaha untuk mendapatkan kasih sayang ibunda tercinta layaknya kasih sayang yang diberikan untuk Amir, namun kasih sayang itu hanyalah sebuah harapan yang tak kunjung datang.

Cinta yang bertepuk sebelah tangan sangat tampak dirasakan oleh Umar. Meskipun dia selalu mengalah kepada sang adik, kasih sayang tak juga tumbuh dari diri seorang ibu.

Tidak menginginkan adik dan ibunya sedih, Umar selalu melontarkan senyum manis keapada mereka. Akan tetapi di balik semua senyum manisnya sesungguhnya hati Umar tersayat oleh sikap ibunya yang mengacuhkan kasih sayangnya.

Begitu terasa sangat menyakitkan. Perasaan seorang anak yang tidak mendapatkan kasih sayang ibu kandungnya. Setiap tetesan butir-butir air matanya ditanam dalam-dalam dilubuk hatinya. Rasa sakit selalu disembunyikan di balik senyum manisnya.

Hingga akhirnya kekecewaan yang dirasakan Umar mencuak tak terbendung ketika menjelang hari ulang tahun dua anak kembar ini.

Sang ibu memberikan hadiah istimewa untuk Amir tapi tidak dengan Umar yang tidak mendapatkan kado dari ibundanya.

tak kuasa menahan gejolak dalam hatinya, Umar bertanya “ibu, mana hadiah buat aku”.
dengan polos ibunda menjawab “aduh maafin ibu Umar, uang ibu habis untuk beli hadiah kado ulang tahun buat adek kamu”.

Kaget. . . .

Tersentak…

Tak menyangka dengan perlakuan ibunya.

Hati Umar benar-benar terpukul dengan jawaban sang ibu. Sejenak Umar terdiam menahan air matanya untuk tidak menetes di depan ibunya, diiringi helaan nafas kemudian Umar berkata “oh, tidak apa-apa ibu mungkin Amir lebih membutuhkan hadiah itu”. sungguh jawaban yang bijak untuk seorang anak yang di sisihkan.

Hingga sebulan kemudian berlalu, kejadian yang tidak diharapkan kini terjadi. Musibah dialami Umar yang memaksa malaikat maut untuk merenggut nyawanya. Terdiam, tak sepatah kata pun terucap dari bibir sang ibu. Hanya air mata yang kini berbicara ketika melihat anaknya terbujur kaku dengan bersimpah darah.
tanpa disadari ibunda, sepucuk surat kini telah ada dalam genggamannya yang belum sempat terbaca melihat anaknya terbaring tenang. Perlahan, dengan tangan gemetar, ibunda menggerakkan tangannya membuka surat tersebut kemudian membacanya.

Dalam surat itu tertulis apa yang dirasakan Umar selama ni.

Dear Bunda.

“sepucuk surat ini aku tulis buat ibu disaat malam perayaan ulang tahun aku. Tapi mungkin ibu akan baca disaat aku telah tiada

ibu, selama ini aku berusaha untuk mendapatkan kasih sayang ibu. Tapi ibu tidak pernah menghiraukannya.

Kasih sayang ibu hanya ibu berikan untuk adek Amir dan tidak untukku. Sebagai anak, aku juga sangat merindukan hal itu. Tapi mengapa ibu tidak pernah menyadari perasaan yg selama ini aku harapkan.

Ibu, bagaimana pun sikap ibu terhadap aku, aku tetep sayang sama ibu.

Walaupun sakit hatiku setiap hari bertambah tapi tidak dengan kebencianku terhadap ibu.

Bagaimana pun juga aku sangat berterima kasih sama ibu walaupun ibu tidak memberikan kasih sayang ibu untuk aku.

Tapi setidaknya ibu telah benar-benar menyayangi aku dan menjaga aku walaupun itu hanya selama Sembilan bulan.

Ibu, mungkin ibu tidak akan merasa kehilangan saat aku telah di panggil kehadapan Tuhan. Tapi aku akan sangat merasa kehilangan meninggalkan ibu dan adek Amir karna aku sangat sayang sama kalian.

Ibu, setelah apa yang ibu berikan kepada aku, aku hanya bisa mengatakan kalo aku sangat sayang kepada ibu dan adek Amir. Aku sangat sayang sama kalian. Sayang banget.

Ibu, jagalah adek Amir dengan penuh rasa kasih sayang ibu.Dan jangan pernah ibu mengabaikan adek Amir.

Terima kasih ibu.

Selamat tinggal ibu dan adeku Amir.

salam anakmu, Umar ”.

Kini seorang ibu hanya bisa terdiam menyesali apa yang selama ini dia tidak ketahui. Tanpa disadari, perlahan butir-butir air matanya kini mulai menetes. Hujan air mata tak terbendung lagi. Hanya sebuah penyesalan yang dirasakan dan hanya kerinduan yang harapkan. Tapi nasi telah menjadi bubur.

Anak kini telah pergi. Sebagai ibu, bagaimana pun akan diselimuti kesedihan disaat anaknya pergi meninggalkannya. Mengalir air matanya deras mengiringi kesedihan. Gemetar bibirnya seraya berkata “maafkan aku anakku. Maafkan atas kelalaian ibu. Ibu juga sayang sama kamu nak”. hanya kata maaf diselimuti penyesalan yang kini bisa terucap dari bibirnya. seberapa besar sebuah penyesalan tidak akan mengembalikan waktu yang telah berlalu. "Nasi telah menjadi bubur" begitulah bunyi pribahasa yang tidak asing terdengar.

Ingatlah wahai kawan, sesungguhnya sesuatu itu akan terasa sangat berharga jika sesuatu itu telah tiada…
Jagalah apa yang kamu punya dan rawatlah apa yang menjadi tanggungjawab kamu.

Sekian cerita sampai disini. Janganlah anda pernah melalaikan yang mungkin anda menganggap itu suatu yang kecil karena suatu yang kecil bisa mengakibatkan penyesalan yang dalam.

4 komentar:

ILham mengatakan...

hmmmmmm....lumayan

Unknown mengatakan...

lumayan apa?

Kajian dan Pelayanan Jasa Hukum mengatakan...

Bagus....bahasa runtut dan enak dibaca.... harus lebih ditingkatkan..........

Zuliasari Wahyu mengatakan...

terharu membacanya,,,alurnya biasa saja tetapi maknanya sangat berarti bagi siapa saja yang membacanya.....