Like Me on Facebook
Follow Me on Twitter
Recommend Me on Google Plus
Subscribe me on RSS

Kamis, 18 Juli 2013

Sahabat Kamera

2 comments
Dari kiri ke kanan: Farlos, Firas, Gue, Katak

Bermula dari pertemanan, empat sekawan yang dipertemukan oleh arah waktu yang berjalan. Dari beckground yang berbeda namun mempunyai tekad dan hobi yang sama. Fajar M nugraha yang biasa dipanggil dengan nama Farlos adalah mahasiswa broadcasting yang menggemari film. Dia beranggapan bahwa dirinya mirip Carlos pemain sepakbola timnas Brasil. Sebab itulah dia menamai dirinya sendiri dengan Fajar Carlos. Dari situlah asal usul nama Farlos muncul. Orang yang paling gila diantara kita semua. Berwajah teatrikal. Dia Kelahiran Majalengka, setengah Sunda setengah Jawa . Orangnya cukup cekatan dan selalu menjadi pendorong pembangkit semangat para sahabatnya. Selama jangka waktu kuliah yang ditempuh, dia sering kali terlibat beberapa pembuatan film pendek untuk dilombakan ke festival-festival film indie. Meraih peringkat dua festival film indie Jogja.

Firas, orang yang sedikit lelet menanggapi sesuatu. Terkesan cuek.  Tapi otaknya mampu bekerja seperti detak jarum jam yang selalu berputar tanpa henti. Terlebih lagi saat malam hari. Otaknya berfungsi maksimal saat langit tak lagi berwarna biru. Jika langit mulai terang, sudah dipastikan dia akan terlelap hingga sore tiba, kecuali jika kita ada acara. Namun sayang otak itu bukan untuk kuliahnya, akan tetapi untuk hobi yang digemarinya. Videografi. Mungkin itu yang membuat dia menjadi mahasiswa paling lama diantara kita berempat. Dia mahasiswa broadcasting, satu atap dengan Farlos dikampus yang serupa. Anak Jakarta yang berpindah ke Jogjakarta demi meraih ilmu dan cita-cita sebagai pembuat film. Dari seluruh materi kuliah yang ada, hanya videografi yang dia tekuni. Selain itu, masa bodo. Satu hal yang membuat kita jengkel dari dia adalah saat makan. Sudah bisa dipastikan membutuhkan waktu yang lama hanya untuk menunggunya selesei makan. Hampir seperti siput yang berlari menuju garis finih. Lelet.

Jhosu, bukan lulusan broadcasting. Dia adalah mantan mahasiswa dengan kemampuan design yang cadas. Kreatif dalam mengolah setiap alphabet yang diam menjadi lebih berwarna. Tipe orang yang urakan. Hidupnya yang tidak ingin dibatasi dengan peraturan-peraturan yang memenjarakan kreatifitas. Wataknya keras, khas orang Medan. Namun siapa sangka, Jhosu, yang biasa kita panggil dengan sebutan "katak", mampu merubah kamar persegi yang berukuran empat kali empat menjadi sebuah museum pameran fotografi dan seni lukis. Tapi setiap orang pasti ada sisi yang kita kurang suka, bukan?. Untuk seorang Katak, hal yang paling menyebalkan yang sering dilakukan adalah dimana saat kita mengajak dia berkumpul atau hanya sekedar hunting dan dia selalu bertanya "SIAPA-SIAPA AJA?". Seandainya kata-kata itu bisa ditukar dengan rupiah, mungkin kita bisa menggunakannya untuk membeli lensa atau bahkan kamera. Kata-kata yang mahal dan sangat sakral.

Sedangkan aku, namaku Miftakhul Ulum. Seingatku nama itu yang diberikan oleh kedua orang tuaku dan masih mengikatku sampai saat ini. Aku kagum dengan tokoh lima bersaudara yang melegenda di ruang lingkup orang Indonesia, terutama suku Jawa. Pandawa Lima. Dan aku menambahkan sendiri nama "Pandawa" di belakang namaku. Sebelumnya, orang-orang sekitar menamai keluargaku adalah keluarga Pandawa Lima karena kami lima bersaudara, laki-laki. Sampai akhirnya aku tidak lagi mendengar sebutan itu karena telah hadir ditengah-tengah keluarga kami seorang bidadari cantik. Satu yang menjadi ciri khasku dan yang membedakan aku diantara mereka. Ciri khas "Doyan Jomblo". Itulah ciri khas yang sangat istimewa menyakitkan, menyebalkan serta memalukan. Aku bukan lulusan mahasiswa broadcasting. Bukan pula mantan mahasiswa design. Aku hanyalah sarjana Hubungan Internasional. Lantas, apa yang membuatku bisa bergabung dengan mereka dan masuk ke dalam dunia media yang selalu berhadapan dengan kamera? Inilah ceritaku bersama mereka. Sahabat kamera.

Semua itu bermula saat aku menemukan titik jenuh dengan segala rutinitas perkuliahanku. Jenuh yang selalu membahas teori-teori. Jenuh karena harus mendengarkan setiap paragraf-paragraf penjelasan yang disampaikan dosen di kelas.  Otak ini serasa dipaksa untuk menelan semua hal tersebut mentah-mentah. Aku orang yang tidak bisa menahan lama-lama gerakan kaki yang selalu melangkah ditempat yang sama tanpa berpindah. Tidak sanggup untuk tetap duduk berdiam diatas kursi dan melihat pada satu arah. Aku ingin tantangan sekeras batu karang, karena aku suka berpetualang.

Aku mulai mencari setitik cahaya yang akan menuntunku ke dunia baru. Langkah demi langkah aku pilah untuk pilihan yang benar-benar  mampu membuatku bertahan dengan sejuta ruang gerak. Dan yang terpikirkan olehku saat itu hanyalah fotografi. Dimana aku bisa berpusat pada satu poros dengan haluan yang berbeda-beda. Fotografi, tulisan dan alam adalah satu kesatuan yang saling melegkapi. Dengan cara itulah aku menyatukan hobiku menulis dengan hiasan foto-foto dan mengabadikan maha karya Tuhan, alam, melalui satu titik poros. Lensa.

Perlahan dengan pasti aku menelusuri ilmu dibidang fotografi. Tidak sekolah. Hanya mengamatinya melalui dunia yang tergolong maya. Dunia internet. Dunia ghaib tempat bersarangnya segala jenis ilmu dan informasi. Aku memaanfaatkan semua itu. Namun, pikirku, semua itu akan terbuang sia-sia jika tak ada tempat peraduan untuk mencobanya secara langsung. Disitulah aku kembali teringat akan sahabatku. Sahabat yang sudah lama tak bertemu setelah terpisah oleh jarak dan waktu. Farlos.

"Dia pasti punya kamera, lah wong anak broadcast og" celetukku dengan logat khas Jogja. Dengan cekatan aku mengambil handphone yang ada di sebelahku. Melihat list kontak dengan harapan aku masih menyimpan nomernya yang dulu pernah dia kasih saat chating di jejaring sosial facebook. Dengan cepat aku ketik namanya di handphone. Dan aku menemukannya. Segera aku kirim pesan untuk memastikan nomer tersebut tidak kedaluarsa.

"Tes.." pesan singkat yang aku kirimkan untuk memastikan nomer tersebut masih dalam jangkauan. Tak lama kemudian handphone yang aku genggam bergetar-getar menggelikan. Satu pesan masuk. Segera aku membukanya. Ku lihat pesan masuk darinya yang bertuliskan "Tis gede...". "Dasar homo", batinku bercanda.

"Dimana cin?"

"Di kos, ada apa?"

"Besok daku berkunjung yak"

"Siaaapp"

"Oke, muach"

Aku dan Farlos sudah berteman sejak lama sebelum bertemu dengan dua sahabatku yang lainnya. Sudah menjadi kebiasaan kita bermesra-mesraan dengan teks sms yang kami kirim. Tapi kami bukanlah homo yang saling suka satu sama lain. Kita hanya jomblo bersaudara yang saling memahami. Tidak semua yang kita tulis menggambarkan jati diri kita, bukan?. Kita hanya saling memahami. Tidak lebih.

Semenjak saat itu, aku sering meluangkan waktu untuk menjenguk sahabatku itu di tempat persembunyiannya. Bukan untuk bermesraan, tapi untuk suatu tujuan yang aku impikan. Suatu hasrat yang belum aku dapat selama ini di duniaku sebelumnya. Untuk mencoba lebih dekat dengan kamera. Mendalami fotografi. Dialah harapanku satu-satunya yang bisa mengajariku sedikit tentang kamera secara nyata.


2 komentar:

Anonim mengatakan...

wow.. keep blogging guys..
i really wanna read about your life in photography journey =)

melodyofmywords.blogspot.com

Unknown mengatakan...

Oke, if you want to..just follow my blog and keep in touch then..Btw, you have a nice blog, great posting and awesome :)